Join The Community

Premium WordPress Themes

Minggu, 27 Februari 2011

KEPEMIMPINAN

Sejarah kehidupan manusia adalah membentuk kelompok agar eksistensi mereka dapat bertahan menghadapi setiap perubahan lingkungan dimana manusia berada. Dengan adanya kelompok kehidupan manusia ada saja orang yang disebut pemimpin yang mampu menggerakkan pola, arah kehidupan kelompok manusia tersebut. Dari hal tersebut dapat dikemukakan bahwa pemimpin itu muncul karena adanya kelompok orang dan di tiap kelompok dapat pula terjadi pertukaran pemimpin.
Dalam proses perkembangannya kelompok, orang-orang tersebut bisa dalam bentuk organisasi formal, dimana ada atasan dan bawahan, atau ada pimpinan dan anggota tertentu sebagai bawahan, ada hubungan timbal balik antara pemimpin dengan yang dipimpin. Selain itu ada organisasi yang bersifat non formal dalam pengertian tidak ada struktur resmi seperti atasan dan bawahan pada organisasi formal. Contohnya, organisasi non formal kelompoktani. Proses hubungan timbal balik dalam organisasi menumbuhkan perilaku kepemimpinan dalam berorganisasi.
Setiap orang yang disebut pemimpin mempunyai pengaruh atas yang lain, dan pengaruh ini akan tumbuh sesuai perjalanan waktu. Besar pengaruh pemimpin terhadap yang dipimpin dipengaruhi oleh faktor kondisi dan lingkungan. Praktek mempengaruhi ini merupakan proses pratek kepemimpinan. Keberhasilan bertumbuhkembangnya organisasi/kelompok banyak ditentukan praktek kepemimpinan dari organisasi/kelompok tersebut.
Seorang pemimpin harus mampu menggerakan, mendorong, mendinamiskan kelompoknya sehingga kelompok yang dipimpinnya menjadi tumbuh dan berkembang, mandiri, sehingga bermanfaat bagi kesejateraan anggota-anggotanya.
Keberhasilan kelompoktani banyak tergantung pada kemampuan, kemauan, dan kepemimpinan kontaktani.
Berbicara dinamika kelompoktani dapat dipahami adalah sebagai hubungan antar manusia yang kompleks karena melibatkan :
• Hubungan-hubungan antara dua orang
• Hubungan-hubungan antara seseorang dengan kelompok
• Hubungan-hubungan antara kelompok-kelompok
Permainan-permaian dinamika kelompoktani adalah latihan pendidikan tentang pengalaman yang dapat membantu petani mempelajari tentang mereka sendiri, hubungan antar sesama anggota, dan bagaimana fungsi-fungsi kelompok dipandang dari suatu dinamika kelompoktani atau psikologi sosial.
Kegunaan permainan dinamika kelompoktani biasanya dirancang untuk maksud tertentu seperti pengembangan diri, membangun karakter, dan kerjasama kelompok melalui suatu suasana lingkungan dinamika kelompoktani.
Dalam rangka kegiatan penyuluhan untuk membangun dan mengembangkan dinamika kelompoktani bisa dicoba permainan peran ini. Beberapa di antaranya: Kegiatan-kegiatan kelompok memecahkan masalah (group problem solving activities), permainan ice breaker, permainan kepemimpinan (leadership game), permainan membangun kerjasama (team building game), permainan membangun kepercayaan (trust building game), pemainan ‘menang-menang’ (win-win game), dan psiko-drama termasuk di dalamnya permainan bermain peran (role-playing game).
Pada dasarnya yang diinginkan adalah terbentuknya suatu kelompoktani yang memiliki hubungan yang harmonis, terbangun kepemimpinan, kepercayaan, kerjasama di antara sesama anggota kelompok, antara anggota dengan kelompoknya dan juga antara kelompok satu dengan kelompok lainnya sebagai ciri terbangunnya suatu kelompoktani yang dinamis.

Beberapa pengertian kepemimpinan dalam organisasi/kelompoktani dapat dikemukakan sebagai berikut :
Menurut Ordway Tead (1935): “Leadership is the activity of influencing people to cooperate toward some goals which come to find desirable...” (kepemimpinan adalah kegiatan mempengaruhi orang agar mau bekerjasama untuk mencapai beberapa tujuan yang mereka inginkan).
Frangklyn S.H., (1951) menyebutkan: “Leadership is an effort on his put direct the behavior of others toward a particular end”. (kepemimpinan adalah suatu usaha untuk mengarahan perilaku orang lain guna mencapai tujuan khusus).
James M. Black, (1961) mendefinisikan: “Leadership is capable persuading others to work together interdirection as a team to accomplish certain designated objectives”. (kepemimpinan adalah kemampuan yang sanggup meyakinkan orang lain supaya bekerjasama di bawah pimpinannya sebagai suatu tim untuk mencapai tujuan tertentu).
Harold Koontz dan Cyrill O.D., (1976) mendefinisikan: “Leadership is the art of inducing subordinates to accomplish their assignment with deal and confidence”, (kepemimpinan adalah seni membujuk bawahan untuk menyelesaikan pekerjaan-pekerjaan mereka dengan semangat dan keyakinan).
Menurut Buchari Zainun (1984), mengemukakan atas kepemimpinan yang dirumuskan oleh Ki Hajar Dewantoro yaitu sifat “ING NGARSO SUNG TULODO, ING MADYO MANGUN KARSO, TUT WURI HANDAYANI”, dari filsafat ini ditemukan 17 pedoman kepemimpinan yaitu :
1. Taqwa.
2. Taat.
3. Temen (jujur).
4. Tekun.
5. Terampil
6. Tanggap.
7. Trengginas (lincah)
8. Tegas
9. Tangguh
10. Tanggon (iman)
11. Terbuka.
12. Toleran.
13. Teliti.
14. Tertib.
15. Tepo seliro.
16. Tanpa Pamrih.
17. Tanggung jawab.
Selanjutnya dikemukakan, dalam lingkungan Angkatan Bersenjata Republik Indonesia ditemukan rumusan sebelas asas kepemimpinan yang digali dari peninggalan nilai-nilai kepemimpinan di bumi Indonesia. Kesebelas asas kepemimpinan ABRI itu adalah :
1. Ing Ngarso Sung Tulodo yang berarti kalau pemimpin itu berada didepan, ia memberikan teladan.
2. Ing Madyo Mangun Karso yang berarti bilamana pemimpin berada ditengah, ia membangkitkan tekad dan semangat.
3. Tut Wuri Handayani yang berarti bilaman pemimpin itu berada dibelakang, ia berperanan sebagai kekuatan pendorong dan penggerak.
4. Taqwa yang berarti seorang pemimpin itu haruslah merupakan seorang yang percaya dan taqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa.
5. Waspodo Purbo Wiseso yang berarti bahwa seorang pemimpin harus senantiasa waspada, sanggup mengawasi dan berani memberi koneksi kepada yang melakukan kesalahan.
6. Ambeg Parama Arta yang berarti bahwa seorang pemimpin mampu menentukan segala sesuatu dengan tepat dan memilih mana yang harus dilakukan.
7. Prasojo yang berarti bahwa seorang pemimpin senantiasa menunjukkan tingkah laku yang bersahaja, sederhana dan tidak berlebihan.
8. Setyo yang berarti selalu mempunyai sikap kesetiaan dan ketaatan yang timbal balik terhadap semua pihak dalam organisasi.
9. Gemi Nastiti yang berarti hemat dan cermat, seorang pemimpin harus mempunyai kesadaran dan kemampuan yang tinggi untuk membatasi penggunaan segala sesuatu hanya kepada yang benar-benar diperlukan saja.
10. Bloko yang berarti jujur yakni kesediaan, kerelaan, dan keberanian untuk mempertanggung jawabkan segala tindakan-tindakannya.
11. Legowo yang berarti bahwa seorang pemimpin itu harus ikhlas yakni kesediaan, keralaan, dan keihlasan untuk pada saatnya menyerahkan tanggung jawab dan kedudukannya kepada generasi berikutnya.
Dari pengertian di atas dapat ditarik kesimpulan bahwa kepemimpinan seseorang diindikasikan adanya daya kepemimpinan yang terdiri dari :
a) Daya memaksa sebagai kemampuan pemimpin untuk mempengaruhi bawahannya dengan menggunakan ancaman sanksi/hukuman.
b) Daya hubungan sebagai kemampuan pemimpin untuk mempengaruhi perilaku bawahannya dengan menggunakan adanya hubungan baik dirinya dengan orang-orang tertentu yang dipandang penting dan berpengaruh.
c) Daya menghargai sebagai kemampuan pemimpin untuk mempengaruhi perilaku bawahan dengan memberikan imbalan berupa upah, penghargan, kenaikan pangkat, kedudukan, dan lain-lain.
d) Daya sah sebagai kemampuan pemimpin untuk mempengaruhi perilaku bawahannya dengan menggunakan kedudukan yang resmi dalam organisasi.
e) Daya kharisma sebagi kemampuan pemimpin untuk mempengaruhi perilaku bawahannya berdasarkan ciri khas kepribadian tertentu.
f) Daya informasi sebagai daya kemampuan pemimpin untuk mempengaruhi perilaku bawahannya dengan menggunakan kelebihannya.
g) Daya ahli sebagai kemampuan pemimpin untuk mempengaruhi perilaku bawahannya dengan menggunakan kelebihan, kecakapan atau pun keterampilan dalam bidang tertentu.
Ada tiga implikasi penting dari pengertian/batasan kepemimpinan di atas yang terkait dengan kelompoktani, yaitu :
1) Kepemimpinan harus melibatkan orang lain, bawahan atau pengikut. Karena kesediaan mereka menerima pengarahan dari pemimpin anggota kelompok membantu menegaskan status pemimpin dan memungkinkan proses kepemimpinan. Tanpa bawahan semua sifat-sifat kepemimpinan seorang pimpinan akan menjadi tidak relevan. Dalam kelompoktani tidak dikenal istilah atasan dan atau bawahan, namun harus ada orang lain sebagai pengikut agar terdapat proses kepemimpinan kontaktani.
2) Kepemimpinan mencakup distribusi kekuasaan yang tidak sama di antara pemimpin dan anggota kelompok. Pemimpin mempunyai wewenang untuk mengarahkan beberapa aktivitas anggota kelompok, yang tidak dapat dengan cara yang sama mengarahkan aktifitas pemimpin. Meskipun demikian, anggota kelompok dapat mempengaruhi aktifitas tersebut dengan sejumlah cara. Hal yang sama juga berlaku dengan kelompoktani.
3) Di samping secara sah mampu memberikan bawahan atau pengikutnya perintah atau pengarahan, pemimpin juga dapat mempengaruhi bawahan dengan berbagai cara yaitu sejak nenek moyang manusia itu berkumpul bersama, bekerjasama untuk mempertahankan keberadaan hidupnya mendatang, melawan kekuatan binatang dan alam sekitarnya. Kondisi tersebut ada unsur pemimpin dan kepemimpinan. Kelompok manusia tersebut akan menunjuk seorang pemimpin yang tentu orang-orang kuat, paling cerdas, punya kebersamaan.

TIPE KEPEMIMPINAN

Tipe kepemimpinan dalam suatu manajemen kelompoktani sangat berpengaruh terhadap keberhasilan pencapaian tujuan, karena anggota kelompok memberikan respon yang berbagai ragam, yang kadang-kadang dapat berdampak positif atau berdampak negatif, sehingga akan mempengaruhi proses pencapaian tujuan.
Menurut Sondang P. Siagian (1989), ada beberapa tipe kepemimpinan di Indonesia seperti dikemukakan di bawah ini :

A. Tipe Militeristis
Perlu diperhatikan terlebih dahulu bahwa yang dimaksud dengan seorang pemimpin tipe militeristis berbeda dengan seorang pemimpin organisasi militer.
Seorang pemimpin yang bertipe militeristis ialah seorang pemimpin yang memiliki sifat-sifat.
- Dalam menggerakan anggota sistem perintah yang lebih sering dipergunakan.
- Dalam menggerakkan anggota senang bergantung kepada pangkat dan jabatannya.
- Senang kepada formalitas yang berlebihan.
- Menuntut disiplin yang tinggi dan kondisi dari anggota.
- Sukar menerima kritikan dari anggota.
- Menggemari upacara-upacara untuk berbagai keadaan.
Terlihat pula di sifat-sifat tersebut bahwa seorang pemimpin yang militeristis belumlah seorang pemimpin yang ideal.

B. Tipe Otokratis
Seorang pemimpin yang otokratis ialah seorang pemimpin yang :
a) Menganggap kelompok sebagai milik pribadi.
b) Mengidentifikasikan tujuan pribadi dengan tujuan kelompok.
c) Menganggap anggota sebagai alat semata-mata.
d) Tidak mau menerima keritik, saran, dan pendapat.
e) Terlalu bergantung kepada kekuatan formalnya.
f) Dalam tindakan penggerakannya sering mempergunakan approach yang mengandung unsur paksaan.
Dari sifat-sifat tersebut di atas jelas terlihat bahwa tipe pemimpin yang demikian tidak tepat untuk suatu kelompoktani dimana hak-hak asasi manusia yang menjadi anggota itu harus dihormati.

C. Tipe Paternalistis
Seorang pemimpin yang tergolong sebagai pemimpin yang paternalistis ialah seorang yang :
a. Menganggap anggota sebagai manusia yang tidak dewasa.
b. Bersikap terlalu melindungi (overly protective).
c. Jarang memberi kesempatan kepada anggotanya untuk mengambil inisiatif.
d. Jarang memberikan kesempatan kepada anggotanya untuk mengembangkan daya kreasi dan fantasinya.
e. Sering bersikap masa tahu.
Harus diakui bahwa untuk keadaan tertentu seorang pemimpin yang demikian sangat diperlukan, akan tetapi sifat-sifatnya yang negatif mengalahkan sifat-sifatnya yang positif.

D. Tipe Kharismatis
Hingga sekarang ini para sarjana belum berhasil menemukan sebab-sebab mengapa seseorang pemimpin memiliki kharisma yang diketahui ialah bahwa pemimpin yang demikian mempunyai daya tarik yang amat besar dan karenanya pada umumnya mempunyai anggota yang jumlahnya sangat besar, meskipun para pengikut itu sering pula tidak dapat menjelaskan mengapa mereka menjadi anggota pemimpin itu.
Karena kurangnya pengetahuan tentang sebab musabab seseorang menjadi pemimpin yang kharismatis, maka seorang hanya dikatakan bahwa pemimpin yang demikian diberkahi dengan kekuatan ghaib (supranatural powers).
Kekayaan, umur, kesehatan, profil tidak dapat digunakan sebagai kriteria untuk Kharisma.
Contoh :
- Gandhi : Bukan seorang yang kaya.
Bukan seorang yang ganteng.
- Iskandar Zulkarnain : bukan seorang yang fisiknya sehat.
- John F. Kennedy : memiliki kharisma meskipun masih muda pada waktu terpilih menjadi presiden A.S.
- Sukarno : bukanlah seorang kaya raya.

E. Tipe Demokratis
Pengetahuan tentang kepemimpinan telah membuktikan bahwa tipe pemimpin yang demokratislah yang paling tepat untuk kelompoktani karena :
a) Dalam proses penggerakkan anggota selalu bertitik tolak dari pendapat bahwa manusia itu adalah makhluk yang termulia di dunia.
b) Selalu berusaha mensinkronsisasikan kepentingan dan tujuan kelompoktani dengan kepentingan dan tujuan pribadi dari para anggotanya.
c) Seorang menerima saran, pendapat bahkan kritik anggotanya.
d) Selalu berusaha mengutamakan kerjasama dan teamwork dalam usaha mencapai tujuan.
e) Dengan ikhlas memberikan kebebasan yang seluas-luasnya kepada anggotannya untuk berbuat kesalahan yang kemudian diperbandingkan dan diperbaiki agar anggota itu tidak lagi berbuat kesalahan yang sama, akan tetapi lebih berani untuk berbuat kesalahan yang lain dan mampu memperbaikinya.
f) Selalu berusaha untuk menjadikan anggotanya lebih sukses daripadanya.
g) Berusaha mengembangkan kapasitas diri pribadinya sebagai pemimpin.

Secara implisit tergambar bahwa untuk menjadi pemimpin tipe demokratis bukanlah suatu hal yang mudah untuk dicapai. Akan tetapi karena pemimpin yang demikianlah yang paling ideal, alangkah baiknya jika semua pemimpin berusaha menjadi seorang pemimpin yang demokratis.

Menurut Earl Nightingale dan Whiti Scrult (1965), mengemukakan bahwa kepemimpinan harus mempunyai/memenuhi syarat-syarat kemampuan sebagai berikut :
1) Memiliki sikap mandiri, berhasrat memajukan diri sendiri.
2) Multitrampil atau memiliki kepandaian yang beraneka ragam/berpengetahuan luas.
3) Besar rasa ingin tahu dan cepat tertarik pada suatu yang positi dan meiliki motivasi tinggi.
4) Memiliki rasa humor, enthusiasme tinggi, dan bersahabat.
5) Perfeksionis/selalu ingin mendapatkan yang sempurna.
6) Mudah menyesuaikan diri, daya adaptasi tinggi.
7) Sabar, waspada, optimis, gigih, ulet, realistis, berani, dan jujur.
8) Komunikatif, serta pandai bicara.
9) Mempunyai daya imaginasi tinggi, firasatnya tajam.
10) Memiliki sikap disiplin dalam berkelompok.

Menurut Ordway Tead (1953), dalam Buchari Zainun (1979), mengemukakan sifat-sifat yang, harus dimiliki seorang pemimpin adalah sebagai berikut :
a) Berbadan sehat, kuat, dan penuh energi.
b) Yakin akan maksud dan tujuan kelompok.
c) Selalu bergairah.
d) Bersifat ramah-tamah.
e) Mempunyai keteguhan hati.
f) Unggul dalam tehnik kerja.
g) Sanggup bertindak tegas.
h) Mempunyai kecerdasan.
i) Pandai mengajar bawahan.
j) Percaya pada diri sendiri.

Fungsi-fungsi kepemimpinan :
1. Mengambil keputusan.
2. Mengembangkan imaginasi dalam bentuk inisiatif, kreatifitas, dan lain-lain.
3. Mengembangkan kesetiaan (loyalitas) anggota kelompok.
4. Pemrakarsa, penggiatan dan pengendalian program yang sudah dibuat bersama.
5. Melaksanakan keputusan kelompok dengan memberikan dorongan (motivasi) kepada anggota.
6. Memanfaat semua sumberdaya yang dimiliki.
7. Mempertanggungjawabkan semua pelaksanaan kegiatan kelompok kepada anggota.
8. Membagi tugas secara bijaksana kepada anggota dalam menggerakan kelompok.
9. Melaksanakan kontrol dan perbaikan bersama-sama anggota terhadap kekurangan-kekurangan dalam kegiatan pelaksanaan program kelompok.

Dinamika kelompoktani
Selain kecakapan teknis yang mesti dimiliki seorang tenaga bantu penyuluh pertanian, berbagai kecakapan sosial dituntut juga perlu dimiliki untuk menunjang keberhasilan pembinaan kerjasama kelompok, berguna untuk membangun dan mengembangkan kelompoktani yang dinamis. Para peserta hendaknya mampu mengajarkan kepada kepada anggota kelompoktani kecakapan yang diperlukan untuk membangun teamwork agar kelompoktani yang dinamis dapat terwujud yaitu kecakapan :
1. Dengar (Listening) – penting untuk mendengar gagasan-gagasan (ideas) orang lain. Bila seorang anggota kelompok diijinkan dan diberi kesempatan untuk menyampaikan gagasan-gagasannya secara bebas, gagasan-gagasan awal ini akan memancing munculnya gagasan-gagasan lain para anggota kelompok. Mendengar tidak hanya kegiatan fisik kuping aktif bekerja, melainkan faktor atensi terhadap si pembicara dan isi pembicaraannya adalah fokus kegiatan dengar. Karena itu unsur ‘mendengar’, perlu diperhatikan di antara anggota dalam membangun dan pengembangan dinamika kelompoktani.
2. Tanya (Questioning) – penting untuk mengajukan pertanyaan-pertanyaan dilakukan oleh anggota kelompok agar terjadi interaksi antar sesama anggota kelompoktani. Bertanya tidak hanya ingin mendapat penjelasan atau ingin tahu, namun lebih jauh agar terjalin interaksi di antara sesama anggota kelompok. Dengan demikian mendiskusikan tujuan, program, rencana kerja, permasalahan kelompoktani atau hal-hal lainnya dalam pertemuan dan pembicaraan akan lebih mudah belangsung. Tradisi ‘bertanya’, penting dikembangkan dalam kelompoktani menjadi suatu kebiasaan para anggotanya.
3. Bujuk (Persuading) – setiap orang didorong untuk melakukan proses bertukar gagasan, mempertahankan gagasan, dan kemudian pada akhirnya memikirkan kembali gagasan-gagasan mereka yang terbaik. Kegiatan ‘membujuk’, adalah ciri kegiatan yang sering dijumpai dan dilakukan penyuluh pertanian kepada para pelaku utama dan pelaku usaha dalam melaksanakan kegiatannya, tidak ada paksaan atau memaksakan kehendak kepada orang lain. Yang ada adalah penyampaian informasi, gagasan, bertukar pendapat atau gagasan dan akhirnya memilih gagasan terbaik. Kecakapan dalam membujuk agar gagasan dapat diterima.
4. Hormat (Respecting) – penting untuk memperlakukan orang lain dengan perasaan hormat dan mendukung gagasan-gagasan mereka. Rasa hormat penting dibina dan ditumbuhkembangkan dalam mewujudkan dinamika kelompok. Kita ingin memperlakukan orang lain sebagaimana kita ingin diperlakukan. Meskipun gagasan dari diri sendiri bagus, namun untuk mencapai suatu dinamika kelompoktani yang sejati, perlu dibina di antara anggota kelompok kebiasaan ‘menghormati’ orang lain, misalnya dengan memberi dukungan atas usul atau pendapat yang diajukan anggota lain dalam suatu pertemuan kelompok. Kebiasaan hormat ini adalah pengikat yang kokoh tumbuhnya kelompoktani yang dinamis.
5. Bantu (Helping) – penting untuk saling bantu sesama anggota kelompok sudah menjadi tema umum dalam suatu kerjasama kelompoktani. Bahwa banyak kegiatan yang dilaksanakan membutuhkan bantuan orang lain dalam melancarkan kegiatan sudah umum diketahui. Yang penting diperhatikan adalah ada kebiasaan dan kecakapan saling bantu di antara anggota kelompoktani. Tahu saat-saat anggota lain membutuhkan bantuan dan cara memberi bantuan adalah kecakapan tersendiri.
6. Ambil bagian (Sharing) – penting untuk ambil bagian setiap anggota kelompok di dalam kelompoktani untuk menciptakan suatu lingkungan kerjasama untuk memajukan kelompoktani. Kelompoktani yang dinamis ditandai oleh semua elemen kelompok bekerja, tidak ada anggota yang tidak terlibat, artinya semua berkontribusi dalam setiap kegiatan.
7. Parisipasi (Participating) – semua anggota kelompoktani didorong untuk berpartisipasi dalam aktivitas kelompoktani, terutama dalam setiap proses pengambilan keputusan kelompok. Partisiapasi dalam hal ini tidak hanya berupa kegiatan fisik, atau pembagian kewajiban yang dibebankan kepada anggota, melainkan kecakapan dalam proses pengambilan keputusan-keputusan oleh anggota kelompok adalah bagian yang amat penting. Dengan cara demikian secara bertahap akan dapat diwujudkan dinamika kelompoktani.
Terbangunnya kerjasama antar sesama anggota kelompoktani adalah kunci untuk keberhasilan perjalanan kelompok, diibaratkan sebuah lampu dim kenderaan, dapat terlihat meskipun sangat jauh bersinar.

DAFTAR PUSTAKA

Buchari, Z. 1984. Manajemen dan Motivasi. Balai Aksara, Jakarta.

Duncan, W. Jack. 1981. Organizational Behavior Indeks. Boston Houghton Miffin, Co.

Gregory, M and Ricky, W.G. 1989. Organizational Behavior. Houghton Iliffin Co. Dallas, USA.

G.R. Terry dan I.W.Rul. 1985. Dasar-dasar Manajemen. PT. Bina Aksara, Jakarta.

Miftah, Thoha. 1999. Kepemimpinan dan Manajemen Suatu Pendekatan Perilaku. PT. Raja Grafindo Persada, Jakarta.

Mortimez, R.F and Robert T. 1994. Psikologi Manajemen, Penerbit Mitra Utama, Jakarta.

Sondang, P. Siagian. 1989. Falsafah Administrasi. Penerbit CV. Haji Masagung, Jakarta.

Sutarto.1991. Dasar-dasar Kepemimpinan Administrasi. Gajah Mada University Press, Yogyakarta.

0 komentar:

Posting Komentar